Hukum Qurban

Memasuki Bulan Dzulhijjah banyak keutamaan yang kita dapatkan di bulan haji tersebut, terutama di sepuluh hari pertamanya. Tidak sampai disitu, setelah kita melaksanakan Shalat Ied, masih ada amal ibadah yang dapat kita lakukan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, salah satunya ibadah qurban. Menyembelih qurban merupakan ibadah yang telah disyari’atkan berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah. Namun apakah menyembelih qurban tersebut dihukumi wajib ataukah sunnah ? Di sini para ulama memiliki beda pendapat.

Pendapat pertama: Diwajibkan bagi orang yang mampu

Ulama yang berpendapat seperti ini adalah Abu Yusuf, Rabi’ah, Al Laits bin Sa’ad, Al Awza’i, Ats-Tsauri, dan Imam Malik dalam salah satu pendapatnya.

Di antara dalil mereka adalah firman Allah Ta’ala,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

 “Dirikanlah shalat dan berkurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2).

Ayat ini menggunakan kata perintah dan asal perintah adalah wajib.

Dalil lain yang menunjukkan wajibnya qurban adalah hadits dari Abu Hurairah r.a, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

 “Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rizki) dan tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah no. 3123. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Pendapat kedua: Sunnah dan Tidak Wajib

Mayoritas ulama berpendapat bahwa menyembelih qurban adalah sunnah mu’akkad. Pendapat ini dianut oleh ulama Syafi’iyyah, ulama Hambali, pendapat yang paling kuat dari Imam Malik, dan salah satu pendapat dari Abu Yusuf (murid Abu Hanifah). Pendapat ini juga adalah pendapat Abu Bakr, ‘Umar bin Khottob, Bilal, Abu Mas’ud Al Badriy,  Suwaid bin Ghafalah, Sa’id bin Al Musayyab, ‘Atho’, ‘Alqomah, Al Aswad, Ishaq, Abu Tsaur dan Ibnul Mundzir.

Di antara dalil mayoritas ulama adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

 “Jika masuk bulan Dzulhijah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih qurban, maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya.” (Yang dimaksud hadits ini adalah dilarang memotong rambut dan kuku shohibul qurban itu sendiri).

Hadits ini mengatakan, “dan salah seorang dari kalian ingin”, hal ini dikaitkan dengan kemauan. Seandainya menyembelih qurban itu wajib, maka cukuplah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya”, tanpa disertai adanya kemauan.

Begitu pula alasan tidak di wajibkannya qurban adalah karena Abu Bakar dan ‘Umar tidak menyembelih selama satu atau dua tahun karena khawatir jika dianggap wajib. Mereka melakukan semacam ini karena mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak mewajibkannya. Ditambah lagi tidak ada satu pun sahabat yang menyelisihi pendapat mereka. 

Kesimpulan, dari dua pendapat di  atas, kami lebih cenderung pada pendapat kedua (pendapat mayoritas ulama) yang menyatakan menyembelih qurban sunnah dan tidak wajib. Di antara alasannya adalah karena pendapat ini didukung oleh perbuatan Abu Bakar dan Umar yang pernah tidak berqurban. Hal ini dikuatkan pula oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

فَإِنْ يُطِيعُوا أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَرْشُدُوا

 “Jika kalian mengikuti Abu Bakr dan Umar, pasti kalian akan mendapatkan petunjuk.”(HR. Muslim)
Wallahu a’lam bisshowab . . .

.

.

Paket Qurma (Qurban Yauma)

– Paket A (Kambing) Rp. 2.500.000,-

– Paket B (Kambing) Rp. 2.900.000,-

– Paket A (Sapi) Rp.18.000.000,- ( 2.700.000,-/orang)

– Paket B (Sapi) Rp.20.000.000,- ( 3.000.000,-/orang)

Cara Donasi :

A. Mendatangi langsung Asrama Panti Yauma terdekat, atau

B. Transfer melalui No. Rekening kami :

Mandiri : 134-00-1104423-6

BRI : 0046-01-003051-53-1

BNI : 0250-347-923

BCA : 418-0600006

Konfirmasi Donasi : 0853 20000 911

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *